Cegah Radikalisme di Dunia Maya, Loka Monitor SFRID Gandeng Densus 88 Gelar Diskusi di Sorong

Kapabar – Di tengah derasnya arus informasi, ruang digital dinilai rawan disusupi paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, hingga konten berbahaya yang menyasar generasi muda.
Sebagai langkah pencegahan, Loka Monitor Spektrum Frekuensi Radio Infrastruktur Digital (SFRID) Manokwari bersama Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menggelar sosialisasi dan diskusi publik di Rylich Cafe, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (23/9/2026).
Kepala Loka Monitor SFRID Manokwari, Makmur, mengatakan tugas pihaknya tidak hanya mengawasi spektrum frekuensi radio dan infrastruktur digital, tetapi juga memastikan ekosistem digital yang aman, sehat, dan ramah anak.
“Tantangan besar ini tidak bisa diselesaikan satu instansi saja. Butuh sinergi lintas sektor, termasuk dengan Densus 88 Antiteror, sebagai komitmen bersama melindungi generasi muda sebagai aset terbesar bangsa,” ujar Makmur.
Ia berharap kegiatan ini dapat memperkuat benteng pertahanan digital mulai dari keluarga, institusi keagamaan, hingga kebijakan pemerintah daerah.
“Tujuannya untuk mewujudkan internet yang edukatif dan aman bagi generasi muda di Papua Barat dan Papua Barat Daya,” pungkasnya.
Sementara itu, Gubernur Papua Barat Daya yang diwakili Kepala Dinas Sosial P3A, Anace Nauw, mengatakan ruang siber kini telah menjadi rumah kedua bagi masyarakat.
“Di balik segala kemudahan dan manfaat positif, dunia maya juga menyimpan ancaman besar terhadap keutuhan bangsa,” ujar Anace.
Ia menyebut internet dan media sosial kerap disalahgunakan untuk menyebarkan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, hingga konten negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, dan ajakan kekerasan yang diproduksi setiap detik.
“Jika masyarakat tidak dibekali kemampuan memilah informasi, paparan konten negatif ini berpotensi memecah belah persatuan, merusak tatanan sosial, dan mengancam ideologi bangsa,” ungkapnya.
Menurut Anace, konten negatif sering dikemas secara halus dan manipulatif serta menyasar kelompok rentan, terutama generasi muda yang banyak menghabiskan waktu berselancar di internet.
“Melawan ancaman itu bukan dengan membatasi teknologi, melainkan memperkuat kapasitas manusianya. Di sinilah pentingnya literasi digital agar cakap berpikir kritis, mengevaluasi informasi, memahami etika digital, dan menyebarkan pesan perdamaian di ruang publik,” tuntasnya. *RSR
