Sorotan

Pertamina Sorong Pastikan Tim Oil Spill Response Siaga 24 Jam Hadapi Tumpahan Minyak

Kapabar – PT Pertamina Patra Niaga memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi tumpahan minyak (oil spill) di wilayah perairan Kota Sorong dan sekitarnya. Tim Oil Spill Response disiapkan dan dapat digerakkan selama 24 jam apabila terjadi keadaan darurat pencemaran minyak.

Marine Terminal Safety Inspector (MTSI) Pertamina Sorong, Dr. Captain Ricky Mambrasar, M.Mar menyampaikan kesiapan tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina dalam memastikan keselamatan operasional sekaligus mencegah dampak pencemaran lingkungan akibat tumpahan minyak.

“Untuk oil spill response itu kami siap 24 jam apabila dibutuhkan. Kami sudah siap untuk melaksanakan penanganan,” ujar Captain Ricky usai latihan simulasi operasi mengatasi gerakan separatis bersenjata bersama Koarmada III di Pantai Reklamasi Tembok Berlin, Kota Sorong, Sabtu 29 Agustus 2026.

Captain Ricky menjelaskan, dalam penanganan tumpahan minyak di laut, Pertamina memiliki sejumlah peralatan utama, salah satunya oil boom yang berfungsi mengepung dan melokalisasi tumpahan minyak agar tidak menyebar lebih luas.

Menurut Ricky, Pertamina memiliki dua tim oil boom yang dapat dikerahkan sesuai kebutuhan di lapangan.

Setelah tumpahan minyak berhasil dikepung, penanganan dilanjutkan menggunakan oil skimmer pump, yakni peralatan yang berfungsi menyedot atau mengambil minyak yang berada di permukaan laut.

“Setelah minyak dikepung, ada alat yang namanya oil skimmer pump. Oil skimmer membantu untuk menyedot tumpahan minyak yang jatuh ke laut,” jelas Ricky. 

Ricky menambahkan, apabila masih terdapat sisa minyak berupa flek atau lapisan tipis (oil film) di permukaan air, tim juga memiliki oil dispersant untuk membantu menangani sisa-sisa minyak tersebut sesuai prosedur penanganan pencemaran.

Dalam aspek kesiapan peralatan, ia menyebut panjang oil boom yang dibutuhkan menyesuaikan kondisi dan luasan tumpahan. Secara regulasi, untuk kondisi tertentu dengan tumpahan minyak pada area sekitar 20 hingga 40 kayang, kebutuhan oil boom dapat mencapai sekitar 300 hingga 400 meter untuk meng-cover area tumpahan.

Pertamina juga memiliki kapal yang dapat mendukung proses penanganan, termasuk kapal Transko Pipit, yang disiapkan untuk membantu menyedot atau menangani tumpahan minyak di laut.

“Untuk skimmer pump tergantung kebutuhan tumpahan minyak di laut. Kami punya beberapa unit yang sudah siap. Jika dibutuhkan, kami bisa mengoperasikannya dengan cepat,” katanya.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa kemampuan penanganan Pertamina disiapkan berdasarkan standar dan ketentuan yang berlaku, termasuk standar regulasi internasional.

“Untuk kapasitas, kami punya kapasitas yang memang memenuhi syarat secara regulasi internasional. Jadi jika terjadi tumpahan minyak, kami siap,” tegasnya.

Namun, apabila skala kejadian melebihi kemampuan sumber daya yang tersedia di Kota Sorong, Pertamina akan melakukan koordinasi dan meminta dukungan tambahan dari tim di wilayah lain.

“Apabila di Sorong kami tidak cukup, kami akan membutuhkan tim dari luar. Jika tim dari provinsi lain tidak cukup, kami akan menghubungi tim secara internasional dan berkoordinasi,” ungkapnya.

Ia mengatakan, mekanisme tersebut menunjukkan bahwa penanganan tumpahan minyak dilakukan secara berjenjang dengan mengedepankan kecepatan respons, koordinasi dan keselamatan lingkungan.

“Artinya, apabila ada tumpahan minyak di Kota Sorong maupun di wilayah perairan Papua Barat Daya, kami dari Pertamina siap 24 jam untuk menangani,” ujarnya.

Sebagai Marine Terminal Safety Inspector (MTSI), Ricky sendiri bertugas mengawasi aspek keselamatan kapal dan terminal di wilayah kerja Pertamina Sorong.

MTSI memiliki peran dalam memastikan kesiapan kapal dan fasilitas terminal, termasuk pemeriksaan jetty, manifold, pipa transfer dan selang muat sebelum kegiatan bongkar muat berlangsung.

Selain itu, MTSI mengawasi proses loading maupun discharging BBM dan memastikan penerapan aspek Health, Safety, Security and Environment (HSSE) selama kegiatan operasional.

Kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, termasuk potensi pencemaran akibat tumpahan minyak, juga menjadi bagian penting dari tugas tersebut.

Dengan kesiapan personel, peralatan oil boom, oil skimmer pump, oil dispersant serta dukungan kapal dan koordinasi lintas wilayah, Pertamina Sorong memastikan respons terhadap potensi oil spill dapat dilakukan secara cepat untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan perairan. *RSR

Tampilkan Lebih Banyak

Leave a Reply

Back to top button