Terkini

Ketika PLTS dan Pelepah Pisang Hidupkan Kampung Adat Malasigi 

Rombongan dari Pertamina EP Papua Field dan sepuluh jurnalis lokal Sorong tiba di Kampung Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Kampung Malasigi, Kabupaten Sorong – Siang itu teriknya menyengat seolah menusuk kulit. Debu jalan tanah belum sempat hilang saat 10 wartawan lokal Sorong bersama rombongan PT Pertamina EP (PEP) Papua Field menginjakkan kaki di Kampung Adat Malasigi.

Belum sempat menyapa, suara tifa memecah sunyi. Di depan gerbang kampung, sekelompok masyarakat adat Suku Moi Kelim sudah menanti.  

Masyarakat Adat Kampung Malasigi bersiap menyambut kedatangan rombongan dengan tarian Aluyen atau Alen (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Seorang penari yang merupakan Kepala Adat Malasigi berpakaian adat khas Papua lengkap dengan sebilah parang yang terbuat dari kayu di tangannya berdiri paling depan.

Di belakangnya, dua baris penari wanita, disusul penari pria. Mereka menari Aluyen, atau Alen. Dari kata Alu yang berarti lagu dan Yen yang berarti dinyanyikan.

Tarian Aluyen atau Alen yang bermakna untuk menyambut kedatangan tamu serta wujud syukur kepada leluhur (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Langkah kaki bebas menghentak tanah. Pinggul bergoyang mengikuti irama. Ini tarian penyambutan tamu, sekaligus wujud syukur kepada leluhur.

Yang awalnya hanya menonton, lama-lama ikut hanyut. Decak kagum berubah jadi tawa, lalu ikut menari. Di Malasigi, tamu bukan orang luar. Tamu adalah keluarga yang baru datang.

55 Kilometer Jalan Curam Menuju Rumah Adat

Untuk sampai ke sini butuh nyali. Dari pusat Kota Sorong, jarak 55 kilometer ditempuh dengan kendaraan roda empat tipe pickup truck selama 1,5 hingga 2 jam. Jalan menanjak, berkelok, dan menguras tenaga.

Kedatangan rombongan dari Pertamina EP Papua Field dan sepuluh jurnalis lokal Sorong disambut dengan penuh kehangatan dan keakraban oleh masyarakat Kampung Malasigi (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Tapi lelah itu terbayar. Malasigi terletak di Distrik Klayili, Papua Barat Daya. Rumah panggung masih berdiri. Bahasa Moi masih hidup dan adat, masih jadi napas sehari-hari.

Di tengah tantangan zaman, warga Malasigi memilih jalan berbeda. Mereka mempertahankan budaya, sekaligus jadi pelopor ekowisata berbasis masyarakat. Hutan dijaga, bukan ditebang.

Cendrawasih, Air Panas dan Tangan Mama-mama 

Di balik kampung ini terbentang hutan tropis yang masih utuh. Ada pesisir, ada dataran rendah. Semuanya rumah bagi satwa endemik Papua. 

Wakil Kepala Adat Malasigi, Hein Fami menjelaskan tentang destinasi wisata di Kampung Malasigi yang dapat dikunjungi oleh wisatawan (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Bagi pencinta alam, Malasigi adalah surga birdwatching. Di sini hidup 5 jenis burung Cendrawasih.

“Di Kampung Malasigi ada Cendrawasih Kuning-Kecil, Cendrawasih Raja, Cendrawasih Belah-Rotan, Cendrawasih Dada Biru, dan Cendrawasih Toowa Cemerlang,” ujar Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Belempe Malasigi, Manase Fami (43 tahun), sambil menyalakan rokok di tangannya.

Aliran Sungai Klaluguk yang memunculkan kolam air panas alami yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Tak jauh dari kampung, aliran Sungai Klaluguk memunculkan kolam air panas alami. Airnya hangat dan dipercaya menyembuhkan penyakit kulit.

“Saat Covid kemarin, ada warga yang rutin mandi di sini dan bilang badannya jadi enakan. Kami percaya itu warisan leluhur,” kata Manase.

Potensi alam juga diubah jadi ekonomi. Mama-mama di kampung ini membuat noken dan keripik pisang. 

Kelompok UMKM Belempe menunjukkan hasil kerajinan berupa Noken yang menggunakan bahan alami dari alam (Kapabar/Ronny Sidabutar)

“Kerajinan ini dikelola kelompok UMKM. Tujuannya menambah penghasilan sekaligus melestarikan budaya,” jelas Manase.

Untuk wisatawan, tersedia homestay 4 kamar seharga Rp500 ribu per malam. Ada juga glamping Rp150 ribu per malam. Fasilitas sederhana, tapi cukup untuk merasakan tidur di tengah hutan.

Tak heran jika tahun 2024, Kampung Malasigi terpilih sebagai Juara 1 Kategori Desa Wisata Rintisan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia. Puncaknya kunjungan terjadi tiap Mei hingga Desember. 

Datang wisatawan domestik dan mancanegara, khusus untuk burung dan air panas.

Saat Matahari dan Pelepah Pisang Menyalakan Kampung

Di balik keberhasilan itu, ada persoalan dasar yang lama membelenggu: listrik dan air bersih.

Fasilitas air bersih di Kampung Malasigi yang menggunakan Hydro B-Leaf Filter dari limbah pelepah pisang (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Dulu, warga mengandalkan genset. 260 liter BBM Premium habis tiap bulan. Untuk air, mereka langsung ambil dari sungai atau menampung air hujan tanpa olahan.

Tahun 2025, PT Pertamina EP Papua Field hadir lewat program Matahati Malasigi. Program pemberdayaan masyarakat adat yang fokus pada pengelolaan hutan lestari berbasis ekowisata.

“Kampung Malasigi ini ekowisata. Harus didukung sarana memadai, termasuk listrik dan air bersih. Dua hal ini penunjang hidup warga dan kenyamanan pengunjung,” kata Field Manager PEP Papua Field, Ardi.

PLTS 8.700 watt yang mengaliri arus listrik ke rumah-rumah masyarakat di Kampung Malasigi yang dapat mengurangi  ketergantungan masyarakat pada energi fosil (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Lewat inovasi revilataleaf, PEP memadukan energi hijau dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya 8.700 watt dan Hydro B-Leaf Filter dari limbah pelepah pisang.

“Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Sekaligus menerapkan zero waste dengan memanfaatkan limbah organik lokal. Hasilnya, kualitas air bersih meningkat dan lingkungan tetap terjaga,” beber Ardi.

Harapan di Ujung Papua

Kini, lampu bisa menyala tanpa suara bising genset. Air keran sudah bisa diminum. Anak-anak bisa belajar malam. 

“Harapan kami besar. Kampung ini bisa jadi destinasi wisata selain Raja Ampat. Agar Sorong tidak hanya jadi kota transit, tapi jadi kota wisata,” pungkas Ardi.

Di Malasigi, masa depan datang dengan menari, menjaga, dan menyalakan harapan.

Penulis: Ronny Sidabutar

Tampilkan Lebih Banyak

Leave a Reply

Back to top button