Terkini

Berita Foto: Noken Belempe, Anyaman dari Hutan Ibu

Noken, tas khas Tanah Papua yang dibuat dengan cara dianyam dan dirajut dari bahan-bahan alami, terus hidup di tangan mama-mama Kampung Adat Malasigi.

Di Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, noken bukan sekadar wadah. Ia adalah simbol penjagaan hutan, kearifan lokal, dan kemandirian ekonomi mama-mama Suku Moi Kelim (A’len).

Proses menganyam Noken Belempe oleh mama-mama Suku Moi Kelim di Kampung Adat Malasigi (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Serat alam pilihan dipetik dari Hutan Belempe yang dijaga turun-temurun. Diolah dengan sabar, dijemur, dipintal, sebelum akhirnya dirajut menjadi helai demi helai.

Serat alam pilihan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan Noken Belempe di Kampung Adat Malasigi (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Bagi masyarakat Malasigi, hutan adalah ibu. Prinsip itu yang membuat setiap lembar Noken Belempe dianyam dengan penuh rasa hormat terhadap alam yang memberi kehidupan.

Noken Belempe yang telah selesai dianyam kemudian dipajang untuk dipasarkan kepada wisatawan yang datang berkunjung ke Kampung Adat Malasigi (Kapabar/Ronny Sidabutar) 

Noken Belempe kini menjadi ikon Kampung Adat Malasigi. Setiap wisatawan yang datang untuk melihat Cenderawasih di Balempe, selalu pulang membawa noken sebagai oleh-oleh. Harganya Rp100 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung ukuran dan motif.

Mama-mama Suku Moi Kelim yang sedang memasarkan Noken Belempe kepada wisatawan untuk menambah penghasilan sehari-hari (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Melalui penjualan noken, mama-mama mendapatkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari anyaman, mereka menjaga hutan, menghidupi keluarga, dan merawat identitas.

Oleh : Ronny Sidabutar (Jurnalis Kabar Papua Barat)

Tampilkan Lebih Banyak

Leave a Reply

Back to top button