Ekonomi Bisnis

Dari Dapur Sempit Seget: Keripik Rp20 Ribu yang Biayai Sekolah Anak

Kampung Seget, Kabupaten Sorong – Perjalanan itu dimulai sejak pagi buta. Tepat pada akhir Agustus lalu, usai mengisi perut dan cek kesehatan sebagai prosedur wajib di lingkungan PT Pertamina Patra Niaga Kilang Kasim, saya bersama 14 jurnalis lokal Sorong masuk ke dalam mobil menempuh perjalanan cukup jauh.

Tujuan kami satu: Kampung Seget, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. 

Keripik pisang Kelompok UMKM Krekban yang baru selesai digoreng (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Dua jam perjalanan darat, cukup untuk membuat punggung pegal. Juga cukup untuk mengerti, mengapa Seget disebut kawasan 3T: Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Aksesnya tidak mudah, infrastrukturnya terbatas.

Namun, di tengah keterbatasan itulah, kami menciumnya. Begitu tiba, di bawah terik matahari yang menyengat, ada aroma yang menuntun langkah. Bukan bau solar, bukan bau laut, tapi wangi keripik pisang yang baru diangkat dari wajan.

Aroma itu membawa kami ke sebuah dapur.

Jika dapur bisa bercerita, dapur ini akan bercerita banyak. Ruangnya sempit, hanya muat beberapa kompor dan wajan yang menyala. Tapi di sanalah, sepuluh mama Papua setiap hari merajut harapan.

Mereka adalah mama-mama Krekban.

Namanya sederhana: Kelompok UMKM Krekban. Kerjanya tidak sederhana. Tangan-tangan mereka bergerak cepat, mengiris pisang tipis-tipis, meracik bumbu, menggoreng dengan takaran api yang pas, lalu mengemas satu per satu. Semua manual, semua dengan gotong royong.

Keripik pisang kemasan 150 gram rasa cokelat yang dijual seharga Rp20 per bungkusnya (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Dari dapur sempit itu lahir empat rasa: balado yang pedasnya nendang, pedas manis yang bikin nagih, keju yang gurih, dan cokelat yang manisnya pas. 150 gram, Rp20 ribu per bungkus. Sehari hanya 30 sampai 50 bungkus. Hasilnya dititipkan di kios-kios kecil sekitar kampung.

Suara dari Dapur: Cerita Ketua Kelompok Krekban

Bagi Ketua Kelompok UMKM Krekban, Sonya L. Wania, perjalanan ini tidak serenyah rasanya.

Sonya masih ingat, awalnya mereka hanya punya satu varian: balado.

“Memang banyak kendala yang kami hadapi soal ketersediaan bahan baku, namun kami tetap semangat menjalankan usaha ini,” ujar Sonya.

Kendala itu nyata. Keju dan cokelat bubuk sulit didapat karena Seget jauh dari kota. Transportasi terbatas. Jika bahan habis, produksi harus berhenti.

Dulu, mereka bahkan harus memakai alat dari dapur masing-masing. Wajan pinjaman, blender yang sudah berderit.

Proses penggorengan keripik pisang oleh mama-mama Kelompok UMKM Krekban (Kapabar/Ronny Sidabutar)

“Dulu kami menjalankan usaha ini dengan mandiri menggunakan peralatan sendiri, sekarang kami bersyukur sudah mendapat bantuan dari Pertamina,” ucap Sonya dengan mata berbinar.

Meski keuntungan masih tipis, hanya Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari per orang, bagi Sonya itu adalah berkat besar.

“Puji Tuhan, berkat usaha ini sangat membantu perekonomian keluarga dan dapat membiayai kebutuhan sekolah anak-anak,” tuturnya penuh syukur.

Dan mimpi mereka kini lebih besar dari dapur itu sendiri.

Proses pengemasan keripik pisang rasa cokelat oleh mama-mama Kelompok UMKM Krekban (Kapabar/Ronny Sidabutar)

“Kami juga ingin memiliki rumah produksi yang lebih layak agar mendongkrak kinerja dalam memproduksi keripik pisang sehingga bisa dipasarkan ke sejumlah tempat,” kata Sonya.

Suara dari Kilang: Komitmen Pertamina Patra Niaga Kilang Kasim

Kisah Krekban tidak hanya tentang keripik. Ini tentang perempuan adat Seget yang selama ini sering tersisih dari ruang pengambilan keputusan. Tanpa wadah, potensi mereka tersembunyi.

Hal itulah yang ditangkap oleh PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Kasim.

Area Manager Communication, Relations, CSR dan Compliance Kilang Kasim, Williamson Amamehi, menjelaskan bahwa kepedulian itu diwujudkan melalui program unggulan bertajuk “Seget Nenema Fa Soro” sebagai komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang inklusif untuk meretas keterbatasan di wilayah 3T.

Dari program besar itu, lahir program yang lebih membumi: SEGET PRIMA.

“SEGET PRIMA bukan program yang datang dari atas. Ia lahir dari Forum Group Discussion (FGD) tahunan tim Community Involvement and Development (CID) bersama warga pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Dari aspirasi warga yang ingin berdaya di tanahnya sendiri,” jelas Williamson.

Rumah produksi keripik pisang Kelompok UMKM Krekban di Kampung Seget, Distrik Seget, Kabupaten Sorong (Kapabar/Ronny Sidabutar)

Di forum itulah warga bicara: mereka punya kebun pisang yang membentang, hasil laut melimpah, dan lahan kosong yang menganggur. Mereka hanya butuh wadah dan pendampingan.

Menjawab itu, Kilang Kasim menggandeng Sinagi Papua, pegiat UMKM lokal, untuk menggelar pelatihan pengolahan pangan lokal. Struktur kelompok pun dibangun demokratis, ketua dipilih warga sendiri lewat musyawarah tanpa intervensi, dikukuhkan dengan SK, dan menjadi jembatan komunikasi dengan tim CID.

“Salah satu sub programnya adalah Krekban, pemanfaatan kelimpahan buah pisang lokal menjadi camilan renyah bernilai jual tinggi. Harapannya, ini bisa membuka jalan bagi kemandirian dan kesetaraan sosial warga, khususnya perempuan adat dan kelompok rentan,” tutupnya.

Kini dari dapur sempit yang harum itu, harapan itu terus digoreng setiap hari. Mama-mama Seget tidak ingin Krekban hanya renyah di kampungnya sendiri.

Mereka ingin ia renyah di seluruh Sorong, di seluruh Tanah Papua, dan suatu hari nanti, di seluruh Indonesia.

Penulis: Ronny Sidabutar

Tampilkan Lebih Banyak

Leave a Reply

Back to top button