Terkini

Diduga Eksploitasi Anak, Pendemo di Kantor DPR Kota Sorong Dilaporkan ke Polisi

Kapabar – Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Sorong secara resmi memproses hukum mahasiswa pelaksana aksi demo di Kantor DPR Kota Sorong, pada tanggal 11 April 2022. Langkah hukum ini diambil karena Peradi menilai pelaksana demo diduga telah melakukan pelanggaran hukum, dengan menghadirkan AZR, murid Sekolah Dasar (SD) dalam aksi yang beragendakan penolakan Presiden Jokowi 3 periode, ditundanya pemilukada, serta naiknya harga minyak goreng.

“Laporan Polisi (LP) tadi malam sudah saya dan orang tua anak ini buat di Polres Sorong Kota. Tentu yang kita laporkan disini adalah kordinator lapangannya, sama ketua-ketua organisasi kemahasiswaan yang ikut ambil bagian dalam aksi demo tersebut,” kata Albert Fransstio, SH selaku Ketua Team Hukum dari PBH Peradi Sorong.

Albert menjelaskan dalam LP tersebut, pihaknya melaporkan pelanggaran UU 35 tahun 2014 tentang perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pasal 87. Dimana menurut Albert pasal tersebut diambil karena jelas pelaksana aksi demo diduga telah melakukan eksploitasi anak dalam kegiatan politik.

“Okelah minyak goreng tidak, tapi dalam demo kemarin mereka juga menolak masa jabatan 3 periode Presiden Jokowi dan penundaan pemilu, itu kan politik. Jadi saya rasa sudah memenuhi unsur laporan yang kami buat,” jelas Albert sembari mengatakan ada hukuman 5 tahun penjara yang sedang mengintai para penanggung jawab demo tersebut.

Sementara itu mengenai keterlibatan AZR dalam aksi demo tersebut, Albert menjelaskan bahwa awalnya AZR yang baru saja pulang sekolah, hendak bermain di rumah temannya yang beralamat di Kilometer 9 Kota Sorong. Namun lanjut Albert saat dalam perjalanan, AZR melihat mobil water canon yang saat itu beriringan dengan massa aksi. Disitulah sambung Albert, AZR kemudian dilibatkan oleh massa aksi dalam kegiatan tersebut.

“Saya bahkan punya video dan foto kalau AZR ini sempat dipakaikan almamater berwarna hijau dan masuk dalam tali komando. Video dan foto ini kami dan team kuasa hukum dapat dari pesan berantai,” terang Albert.

Albert juga meyakini bahwa AZR benar-bebar diajak untuk mengikuti kegiatan tersebut karena tidak mungkin seorang anak yang masih mengenyam pendidikan di bangku SD paham atas permasalahan minyak goreng.

“Anak sekecil itu mana paham soal masalah minyak goreng, apalagi sampai buang-buang minyak goreng seperti itu. Kami juga punya video yang secara jelas berisi seorang mahasiswa beralmamater biru sedang membisikkan sesuatu yang akan diucapkan oleh anak ini,” ungkap Albert via telephone, Selasa (12/4).

Albert menambahkan pihak sekolah tempat AZR menuntut ilmu juga merasa keberatan atas kejadian itu dan mendukung orang tua dan kuasa hukum untuk menempuh jalur hukum.*HMF

Tampilkan Lebih Banyak

Artikel Terkait

Back to top button

Penerimaan Mahasiswa Baru UNAMIN


banner popup

This will close in 20 seconds