Nematovonbeel Hidupkan Swasembada Pangan di Ujung Seget
Program TJSL PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Kasim

Di sebuah lahan kosong di Kampung Seget, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, harapan baru tumbuh. Sejak akhir Mei 2026, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Kasim melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menyulap lahan tidur menjadi Sentra Budidaya Pertanian Produktif dan Terpadu.

Pembersihan dimulai Juni 2026. Bukan alat berat, tapi tangan-tangan warga sendiri yang bekerja. Lahan dibersihkan, semangat dikumpulkan. Kemudian, pada Juli hingga Agustus 2026, 3 zona pertanian terbentuk. Setiap zona berukuran 100 × 50 meter, tampak rapi, terpetak dan penuh kehidupan.

Di balik gerakan ini ada sosok Mama Yumima Ubey (58 tahun), Ketua Kelompok Tani Nematovonbeel. Nematovonbeel dalam bahasa Suku Moi berarti “Mari Kita Coba”. Sebuah filosofi sederhana yang penuh keberanian. Bersama 20 anggota, Mama Yumima memimpin perubahan.

Jagung, bayam, cabai, dan tomat. Empat komoditas kehidupan yang kini tumbuh subur di tanah Seget. Hijau yang bernilai ekonomis.


Untuk saat ini, hasil panen untuk kebutuhan sehari-hari. Dapur-dapur di Seget tak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan dari kota. Pangan tumbuh di halaman sendiri.
Jika panen terus membaik, langkah selanjutnya adalah distribusi. Melalui koperasi sebagai penyalur, hasil tani Seget berpeluang dijual hingga ke Kota Sorong.

Ini bukan sekadar program pertanian. Ini adalah wujud nyata dukungan terhadap program nasional swasembada pangan, dari wilayah 3T di Papua Barat Daya, untuk Indonesia. Dari lahan kosong yang disulap menjadi sentra pertanian produktif serta terpadu.
Oleh: Ronny Sidabutar (Jurnalis Kabar Papua Barat)
