Kilang Kasim Pionir B50 Pertama di Dunia, Pangkas Ketergantungan BBM dari Balikpapan

Kapabar – Di atas lahan 80 hektare di Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya berdiri benteng energi di gerbang timur Indonesia. Namanya Kilang Kasim.
Banyak yang tidak tahu, sebelum kilang ini ada, Papua harus menunggu BBM dikirim jauh dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Ongkos mahal, risiko cuaca tinggi, pasokan rentan putus.
Itu yang diubah Kilang Kasim.
“Kehadiran Kilang Kasim berhasil memangkas biaya distribusi logistik energi secara signifikan, mengeliminasi ketergantungan historis dari Balikpapan, serta memberikan jaminan stabilitas pasokan BBM yang mandiri bagi Tanah Papua dan Maluku,” ujar Area Manager Communication, Relations, CSR dan Compliance Kilang Kasim, Williamson Amamehi, Senin 31 Agustus 2026.
Kilang yang dibangun sejak 1995 dan beroperasi penuh Juli 1997 ini memang dirancang dengan satu filosofi: _Security of Supply_. Jaminan pasokan harus aman untuk Kawasan Timur Indonesia.
Dengan kapasitas 10.000 barel per hari, Kilang Kasim mengoperasikan fasilitas terintegrasi mulai dari Crude Distillation Unit (CDU), Naphtha Hydrotreating Unit (NHTU), hingga Catalytic Reforming Unit (CRU). Hasilnya adalah BBM berkualitas untuk masyarakat: Pertalite, Bio Solar B50, hingga Industrial Fuel Oil (IFO).
Pionir B50 Pertama di Dunia
Tak hanya menjaga pasokan, Kilang Kasim kini mencatat sejarah sebagai pionir energi hijau.
Pada 2025 lalu, Kilang Kasim melakukan lifting perdana Biosolar B40 ke Fuel Terminal Manokwari dan Biak. Itu menjadi pijakan untuk lompatan yang lebih besar.
Tahun ini, Kilang Kasim kembali membuat sejarah. Melalui lifting perdana 4.600 kiloliter Biosolar B50 ke kapal MT Krasak, kilang ini mengukuhkan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang berhasil menerapkan B50.
“Melalui pencampuran 50 persen minyak kelapa sawit (FAME) dan 50 persen minyak solar hasil olahan Kilang Kasim, langkah ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang berhasil menerapkan Biosolar B50,” jelas Williamson.
Ini adalah amanat dari Keputusan Menteri ESDM No. 341.K/EK.01/MEM.E/2024 dan komitmen nyata mendukung Asta Cita Presiden untuk swasembada energi. Perjalanan panjang dari B20 pada 2019, B30 pada 2020, B35 pada 2023, hingga B40 dan B50 hari ini.
“Dari Papua Barat Daya untuk Indonesia, Kilang Kasim terus bergerak di garis depan dalam mengawal transisi energi dan menjaga kedaulatan energi bangsa,” tutup Williamson.
Lebih dari sekadar kilang, Kasim adalah simbol pemerataan pembangunan. Energi yang andal dari Seget, untuk menggerakkan roda ekonomi di seluruh Tanah Papua. *RSR
