Kesehatan

IBI Kota Sorong Rayakan HUT ke-75, Kadinkes Ajak Bidan Jadi Penggerak Perubahan

Kapabar – Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kota Sorong merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 tahun yang dikemas dengan acara syukuran di Gedung Lambert Jitmau, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Selasa 14 Juli 2026.

Ketua IBI Cabang Kota Sorong, Martha Mansawan, mengatakan melalui momentum yang penuh makna tersebut semakin mempererat persaudaraan, memperkuat pengabdian serta meningkatkan semangat para bidan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada ibu, bayi, anak, keluarga dan masyarakat.

“Selama 75 tahun IBI telah menjadi rumah besar bagi para bidan di seluruh wilayah nusantara. Perjalanan panjang ini dimulai ketika para bidan menyadari pentingnya memiliki wadah profesi yang mampu menyatukan langkah, memperjuangkan kepentingan profesi, meningkatkan kompetensi, menjaga etika dan berkontribusi dalam pembangunan kesehatan nasional,” kata Martha.

Martha menerangkan, sejak didirikan pada 24 Juni 1961, IBI terus berkembang menjadi organisasi profesi yang memiliki peran strategis dalam peningkatan mutu pelayanan kebidanan, pengembangan pendidikan, pembinaan kompetensi, penegakan kode etik profesi, advokasi kebijakan kesehatan dan perlindungan bagi tenaga bidan dan masyarakat yang dilayani.

“IBI telah menjadi mitra pemerintah dalam berbagai program kesehatan, mulai dari pelayanan kesehatan ibu dan bayi, keluarga berencana, penurunan angka kematian ibu, penurunan angka kematian bayi, pencegahan stunting, peningkatan kesehatan reproduksi hingga penguatan kesehatan primer,” ungkap Martha. 

Dibalik berbagai capaian tersebut, sambung Martha, terdapat jutaan kisah pengabdian para bidan yang penuh kasih mendampingi perempuan sejak masa remaja, kehamilan, persalinan, nifas, menyusui hingga masa monophase.

“Bagi kita di Kota Sorong, tema HUT ke-75 IBI mempunyai makna yang sangat mendalam. Karena kota ini memiliki tantangan geografis dengan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir ataupun pulau serta akses transportasi yang terbatas,” jelasnya.

Dalam kondisi demikian, lanjut dia, kehadiran seorang bidan sering sekali menjadi harapan pertama bagi ibu hamil dan bayi yang membutuhkan pertolongan. 

“Bidan adalah sahabat perempuan, pendamping keluarga, pendidik masyarakat, konselor, advokat kesehatan sekaligus penggerak perubahan di komunitas. Oleh karena itu, kita harus terus meningkatkan kompetensi melalui pendidikan yang berkelanjutan,” pungkasnya. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jemima Elisabeth, menyebutkan, bidan bukan sekedar tenaga kesehatan, namun bidan adalah sahabat perempuan, pendamping keluarga serta pendidik masyarakat.

“Dibalik tangisan pertama seorang bayi terdapat tangan-tangan bidan yang bekerja dengan penuh kesabaran dan dibalik senyum seorang ibu yang berhasil melalui proses persalinan, ada doa, pengorbanan dan dedikasi seorang bidan. Pengabdian ini mungkin tidak selalu terlihat, tetapi manfaatnya akan dirasakan sepanjang kehidupan,” terang Jemima. 

Jemima juga meyakini, pembangunan kesehatan tidak akan berhasil apabila hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan semata, melainkan membutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat. 

“Dibutuhkan peran pemerintah daerah, dinas kesehatan, IBI, Tim PKK, posyandu, puskesmas, kader kesehatan, dunia pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia usaha hingga keluarga harus berjalan dalam satu irama,” rinci Jemima.

Dia menjelaskan, jumlah bidan di Kota Sorong sebanyak 381 orang yang tersebar di 7 rumah sakit milik pemerintah dan swasta serta 11 puskesmas.

“Dengan begitu, kami harap, pelayanan bidan kepada masyarakat dapat lebih optimal dan efisien,” timpalnya.

Ia mengajak seluruh bidan agar terus menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat. Menjadi bidan yang profesional, berintegritas, terus belajar, terbuka terhadap inovasi serta selalu mengedepankan pelayanan yang humanis.

“Kemajuan teknologi boleh berkembang sangat pesat, digitalisasi pelayanan kesehatan terus bergerak maju, tetapi satu hal yang tidak pernah dapat digantikan oleh teknologi yakni sentuhan kasih, empati dan ketulusan seorang bidan. Itulah kekuatan terbesar profesi ini,” tuntasnya. *RON

Tampilkan Lebih Banyak

Leave a Reply

Back to top button