Sambut Nyepi, Walikota Lepas Pawai Ogoh-Ogoh di Kota Sorong

Kapabar — Umat Hindu di Kota Sorong merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 atau 2026 Masehi yang jatuh pada Kamis-Jumat 19-20 Maret 2026.
Sehari sebelum Nyepi, digelar Tawur Kesanga serta pawai ogoh-ogoh yang dipusatkan di Pura Jagat Bhuana Kerti Jalan Malibela, Kota Sorong, Rabu 18 Maret 2026.
Pawai ogoh-ogoh tersebut, secara resmi dilepas oleh Walikota Sorong, Septinus Lobat didampingi Wakil Walikota Sorong, Anshar Karim dan Ketua PKK Kota Sorong, Jemima Elisabeth yang diikuti umat Hindu di Kota Sorong.
Dalam sambutannya, Walikota menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada umat Hindu di Kota Sorong dalam rangka perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 atau 2026 Masehi.
Septinus Lobat mengatakan bahwa umat Hindu telah berperan aktif menjaga nilai-nilai spiritual, tradisi, serta kearifan lokal yang terus hidup di tengah masyarakat yang majemuk.
“Atas nama Pemerintah Kota Sorong, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh umat Hindu, khususnya yang ada di Kota Sorong, yang senantiasa menjaga tradisi, nilai-nilai spiritual, serta kearifan lokal,” ujar Septinus Lobat.
Lobat menambahkan bahwa rangkaian kegiatan seperti Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh tidak hanya bermakna religius, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat.
“Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh bukan hanya simbol penyucian alam semesta dari energi negatif, tetapi juga momentum mempererat persatuan, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama di Kota Sorong,” lanjut Lobat.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga memiliki nilai edukatif bagi generasi muda agar tetap mengenal dan melestarikan budaya leluhur, dan diharapkan perayaan Nyepi dapat membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat secara luas.
“Melalui pawai ogoh-ogoh, kita diajak merenungkan makna kehidupan, mengendalikan diri, melalui perayaan Hari Suci Nyepi ini, umat Hindu dapat menjalankan Catur Brata Penyepian dengan penuh hikmat sehingga membawa kedamaian, kebijaksanaan, dan energi positif bagi kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Perayaan Nyepi Kota Sorong, I Wayan Kertanegara menjelaskan bahwa tema nasional tahun ini adalah “Vasudhaiva Kutumbakam” yang berarti satu bumi, satu keluarga.
“Tema ini mengajarkan bahwa kita semua bersaudara meskipun berbeda. Ini menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan,” jelas Wayan.
Wayan menegaskan bahwa tujuan utama perayaan Nyepi adalah penyucian diri dan alam semesta. Kegiatan yang telah dilaksanakan, mulai dari kerja bakti, ritual melasti, hingga Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh.
“Melasti bertujuan menyucikan diri dan benda-benda sakral dengan air suci, sedangkan Tawur Kesanga dan ogoh-ogoh melambangkan upaya menetralisir energi negatif atau bhuta kala,” kata Wayan.
Wayan menambahkan bahwa pada puncak Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak bepergian, tidak menyalakan api, tidak bekerja, dan tidak menikmati hiburan.
“Selama kurang lebih 24 jam, kami melakukan introspeksi diri dalam keheningan total untuk mendekatkan diri kepada Tuhan,” tutupnya. *RON
