Terkini

Saupon Village, Ketenangan Dibalik Hutan Mangrove Raja Ampat

Kapabar, Raja Ampat -Tak pernah disangka sebelumnya, jika dibalik hutan mangrove yang lebat juga rimbun terdapat sebuah village yang menawarkan ketenangan bagi para tamunya.

Pasalnya, village yang satu ini memang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, ditambah lagi akses jaringan internet yang cukup terbatas membuat suasana menjadi sangat tenang untuk ditinggali dalam waktu lama.

Ialah, Saupon Adventure Village yang berada di Kampung Waifoi, Distrik Tiplol Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Woifoi yang berjumlah 23 orang dan diketuai oleh Zakaria Gaman (35 tahun).

Zakaria Gaman bercerita, Saupon Village dibangun dengan cara gotong royong sejak tahun 2018 yang diawali dengan dua kamar.

Pada awal membangun, Saupon Village tidak memiliki dapur untuk memasak dan hanya mengandalkan terpal sebagai atap dapur sementara yang cukup sederhana.

“Awalnya, kami cuma punya dua kamar dan tidak ada dapur, hanya menggunakan terpal sebagi atap dapur sementara,” terang Zakaria. 

Namun, sebelum tahun 2018, KTH Woifoi melakukan aktivitas  penangkapan burung dan menebang pohon sembarangan. Hal ini, merupakan tindakan yang merusak lingkungan serta ekosistem di Kampung Waifoi. 

“Kami menangkap burung seperti kakatua raja, kakatua jambul kuning dan nuri untuk dijual di kapal Filipina dengan harga Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu per ekornya. Selain itu, kami juga menebang pohon sembarangan,” aku Zakaria.

Setelahnya, mereka mencoba meninggalkan prilaku yang dapat merusak lingkungan serta ekosistem secara perlahan-lahan. Ditambah lagi, kehadiran sejumlah pihak memberikan pemahaman kepada mereka untuk menjaga alam beserta flora dan faunanya.

“Pertamina masuk disini tahun 2022. Kami banyak mendapatkan bantuan dan edukasi dari mereka untuk meningkatkan pembangunan village ini,” sebut Zakaria.

Zakaria mengakui, bantuan dan edukasi yang diberikan kepada mereka sangat membantu, khususnya dalam meningkatkan pendapatan.

“Kalau dulu, jual burung hanya dapat Rp 20 ribu dalam sehari. Sementara dari village, kami bisa mendapatkan penghasilan yang lebih, karena sudah ada lima kamar, dapur, dan tempat makan bahkan 10 atraksi yang dapat memanjakan para tamu yang datang,” jelasnya.

Ia meminta, agar Pertamina Kilang dapat memberikan bantuan aliran listrik kepada mereka. Karena selama ini, banyak tamu yang datang mengeluhkan suara genset yang sangat mengganggu kenyamanan.

“Kami minta kepada Pertamina Kilang agar memberikan kami bantuan aliran listrik. Karena suara genset banyak dikeluhkan para tamu yang datang kesini,” katanya penuh harap.

Sementara itu, Area Manager Communications, Relations, CSR & Compliance PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU VII Kasim, Ferdy Saputra mengatakan bahwa, Kampung Woifoi merupakan salah satu kampung yang masuk dalam program pemberdayaan dari KPI RU VII Kasim.

“Di Kampung Woifoi kami bekerja sama dengan BBKSDA Papua Barat Daya sejak tahun 2019 hingga 2024 yang dilandasi oleh Memorandum of Understanding (MoU) dari dua belah pihak,” ujar Ferdy.

Dikatakan Ferdy, melalui MoU dengan BBKSDA ini ialah beralasan untuk merubah prilaku masyarakat yang merusak lingkungan dan ekosistemnya.

“Dari situ, kami mencoba untuk merubah habit mereka dengan membuat kegiatan yang bersifat ecotourism. Awalnya kami memberikan bantuan dalam bentuk lingkungan, kemudian kami bantu membangun village secara bertahap setiap tahunnya,” terang Ferdy.

Ferdy berharap, melalui program pemberdayaan ini dapat memperkenalkan Saupon Homestay, agar masyarakat menjadi suatu objek wisata baru di wilayah Raja Ampat.

“Kami juga membantu mempromosikan serta bekerja sama dengan local guide yang berada di Raja Ampat maupun Kota Sorong untuk membantu menawarkan village ini kepada tamu,” terangnya.

Menyikapi permintaan dari KTH Woifoi terkait dengan aliran listrik, Ferdy mengatakan bahwa Pertamina mempunyai program bernama Desa Energi Berdikari.

“Dimana, kami mendapat slot untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Nah, di tahun depan, kami sudah mengajukan ke holding untuk membuat PLTS di Kampung Waifoi,” pungkasnya.

Penulis : Ronny Sidabutar
Wartawan : Kabar Papua Barat (KAPABAR)

Tampilkan Lebih Banyak
Back to top button