Malasigi, Destinasi Ekowisata Berbasis Kearifan Lokal di Sorong

Jauh dari hingar-bingar perkotaan, ada sebuah kampung yang tenang nan asri dengan ritme kehidupan yang seakan melambat.
Namanya, Kampung Adat Malasigi yang terletak di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Untuk bisa ke Malasigi, wisatawan harus menempuh perjalanan sepanjang 55 kilometer atau dalam waktu 1,5 jam dari Kota Sorong dengan akses jalan yang cukup curam.
Kampung Adat Malasigi merupakan ‘rumah’ bagi masyarakat suku Moi Kelim. Di sinilah, sebagian besar warga masih hidup dari hutan, kebun, dan laut.

Gapura kayu sederhana menjadi penanda masuk wilayah Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili. Kampung ini ditetapkan sebagai kampung adat sekaligus kampung ekowisata.
Hanya sebuah gapura kayu sederhana yang dibuat dari kayu hutan, dipahat seadanya, berdiri diam di pintu masuk Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili.
Namun, gapura itu merupakan batas. Batas antara dunia yang bising dan dunia yang penuh dengan ketenangan.
Begitu melewatinya, kebisingan kota tertinggal yang tersisa hanya suara angin di pepohonan, gemericik air, dan sapaan hangat warga Moi Kelim.
Malasigi telah ditetapkan sebagai kampung adat sekaligus kampung ekowisata. Bukan untuk mengubahnya menjadi tempat wisata yang ramai, tapi untuk menjaganya agar tetap menjadi dirinya sendiri.
Di sini, adat adalah aturannya, alam adalah tuannya dan setiap tamu yang datang adalah keluarga yang harus belajar cara menghormati rumah ini.

Sebagai masyarakat suku Moi Kelim, ketika tersiar kabar ada tamu datang, tak perlu undangan. Karena seluruh warga kampung akan bergerak.
Anak-anak berlarian dengan kaki telanjang, mama-mama keluar dari dapur dengan noken masih di kepala, bapak-bapak dan para tetua adat berkumpul di halaman dengan senyum yang tulus.
Tak ada yang diperintah, semua datang karena mereka menganggap tamu adalah saudara yang pulang.
Sambutan di Malasigi bukan seremonial semata, tapi berangkat dari sebuah ketulusan hati. Dari anak kecil hingga orang tua, mereka berdiri bersama, bukan untuk pertunjukan, tapi untuk mengatakan satu hal: “Selamat datang di rumah kami”.

Warga menyambut tamu dengan Tarian Aluyen. Dalam bahasa Moi Kelim, Alu artinya lagu dan Yen artinya dinyanyikan.
Tarian ini ditampilkan saat ada tamu, acara adat, atau syukuran dengan iringan tabungan tifa dan nyanyian. Gerakannya sederhana namun memiliki makna. Ini bukan tarian untuk tontonan semata, tapi bagian dari identitas Suku Moi Kelim.

Pakaian adat suku Moi Kelim lahir langsung dari hutan. Berasal dari kulit kayu yang dipukul hingga lembut seperti kain dan biji-biji hutan serta manik-manik yang dirangkai satu per satu.
Semua dibuat dengan tangan, tanpa mesin jahit dan tanpa pabrik, oleh mama-mama yang penuh keterampilan dan kesabaran.
Setiap lembar kulit kayu, setiap butir manik, punya cerita dan makna. Warna cokelat adalah warna tanah Malasigi, kemudian warna merah maniknya adalah keberanian lalu warna putih adalah ketulusan.
Dan hingga hari ini, pakaian itu tidak disimpan di museum, tetapi selalu dipakai. Dalam setiap tarian Aluyen, penyambutan tamu hingga upacara adat.

Malasigi berjarak tidak jauh dari kota, tapi suasananya sangat berbeda. Di tengah dorongan pembangunan, kampung ini memilih untuk tetap menjaga hutan, adat, dan cara hidupnya. Malasigi menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan identitas.
Oleh : Ronny Sidabutar (Jurnalis Kabar Papua Barat)
